Tonight I kept seeing you in every corner of my home. Seeing
you in my room, seeing the old us happily chattering.
Aku bisa dengan jelas meningat semua memori tentang kita. Your
annoying smile, your shitty laugh, your childish behaviour, the way your eyes
brightly shining everytime you talked about your dreams, and how you kept
talking about everything you love the most. i could still remember the very
detail about yourself. Remembering you making me smile, but also break my heart
more.
Because, you aren’t here. You aren’t mine anymore.
I’m a mess without you. I’m so fucked up without you.
And i need you here tonight.
To hug me.
To feeling your presence.
To wipe away my tears.
To promise me you wouldnt break me for the twice time.
To making me sure that we will be fine.
To be able to doing our daily routine.
To come back to the old us.
You know what? I can’t no longer being strong when our
memories kept haunting me. It almost killing me.
Oh, hai lagi, deh ya!:D Jadi, sebenernya tuh gue mau ngegabungin post-an ini sama cerita sebelumnya. Tapi, rasa-rasanya terlalu panjang. Dibagi menjadi dua aja udah panjang banget, apalagi disatuin. Maka, untuk membuat kalian nyaman membacanya, dan jadi gak bosen, gue pisah aja deh, dan dengan sedikit lebih spesial, because I wrote this with Evan's point of view, but don't judge me, this is my first time writing a man's. So, selamat menikmati isi kepala Evan;)
Well, hai.. jadi kali ini gue mau nerusin cerita dari Evan sama Alice, I rarely doing this, karena biasanya gue biarkan saja cerita pendek yang udah gue post akhirnya ngegantung. But this one is really different. Cerita ini membuat gue jatuh cinta setiap selesai menuliskannya, sosok Evan membuat gue ketagihan untuk menulis tentang dia lagi dan lagi. Dan gue berharap, kalian yang membaca juga merasakan hal yang sama saat membaca cerita ini.
Dan, selalu gue bilang, gue masih amatir dalam menulis. Gue masih belajar. Dan mohon maaf jika banyak hal yang kurang sesuai atau masuk akal. I hope you guys enjoying this as much as I enjoyed write this.
Yang belum baca Part 1-nya, silahkan klik disini. Selamat Membaca! xD
Masihkah kamu menjadi si kepala batu yang sangat sulit untuk
ditentang? Otakku masih menyimpan dirimu sebaga sosok itu, sosok yang sangat
keras kepala, sosok yang tidak mudah melepaskan apa yang kau cintai, termasuk
aku, saat itu. Mengingat hal itu bagaikan mengerjakan soal matematika 1
ditambah 1, sangat mudah hingga tidak memerlukan banyak energi untuk
mengingatnya, aku ingat sekali, saat kau dengan kerasnya ingin mempertahankanku
walau aku sudah berkali-kali memakimu untuk pergi. Namun, seberapa kalipun aku
mengucapkan kalimat menyakitkan untukmu, nyatanya kau tetap menampakkan wajahmu
kembali di pintu rumahku, dan kembali mengatakan bahwa kau masih mengingikan
aku berada disisimu. Kau marah saat aku menentang keputusan itu, saat aku
memilih untuk mengakhiri segalanya. Kau egois saat itu, karena kau tidak mau
kehilangan aku, namun juga tak bisa memilih antara aku atau perempuan itu. Kau
tetap mempertahankanku walau tahu pada akhirnya takdir akan membuat kita
berpisah, namun kau tidak peduli, kau tetap memelukku, mencegah aku untuk
pergi, hingga saat itu tiba.
Hari di mana segalanya hancur dan berubah..
Sifat kepala batumu hilang, begitu pula dengan ego mu yang
keras. Saat itu mungkin kau terlalu lelah, atau aku yang begitu melewati batas?
Kau tidak lagi menahanku pergi, kau hanya berdiri dengan raut wajah yang pilu
dan tatapan kosong saat aku meminta untuk mengakhiri cerita kita. Kau tidak
lagi memaki untuk membuatku tetap berdiri di depanmu, pun dengan berkata lembut
agar aku tak melangkah pergi. Kau tidak berkata apa-apa, kau hanya mematung,
dan merelakan aku pergi saat itu, dengan hati yang hancur dan tatapan penuh
luka.
Rasanya ingin aku mengulang saat itu dan memperbaiki
segalanya. Seandainya saat itu aku mengalah dan mau menerima, mungkin saat ini
aku akan menulis kisah bahagia kita, bukan menulis cerita perpisahan yang
menyakitkan ini. Seharusnya saat itu aku tidak egois, aku hanya mengingkan
diriku bahagia saat itu, tanpa memikirkan sakit yang akan berada di hatimu
nanti. Ku pikir aku akan bahagia.. namun nyatanya, keegoisanku menghancurkan
segalanya, dan melukai diriku sendiri dan seseorang yang aku cintai.
Namun segalanya sudah terlambat, bukan? Perpisahan itu sudah
terjadi, dan luka itu sudah berada di hati kita masing-masing. Dan nyatanya, aku
tidak bisa memperbaiki kerusakan itu, pecahan kacanya terlalu banyak, dan aku
tidak bisa memperbaikinya, karena menginjak kembali pecahan kaca saat itu hanya
akan membunuh diriku saat ini. Aku tidak ingin terluka lebih dalam lagi.
Cukuplah kepergianmu yang membuat hatiku mati, jangan sampai kenangan masa lalu
menyeretku dan menewaskanku juga.
Aku selalu berfikir, apa yang akan terjadi jika keegoisanku
dan dirimu saat itu tidak saling menginginkan menjadi pemenang. Jika saja saat
itu aku dan kamu bisa saling menahan ego, mungkin saat ini kita akan melakukan
rutinitas yang dulu sering kita lakukan; bercengkrama hingga insomnia mulai
memudar. Aku rindu saat itu, dan aku ingin kembali pada masa itu, masa di mana
kamu masih menjadi orang pertama yang selalu aku butuhkan saat insomnia
menyerang. Namun nyatanya, saat malam ini insomnia datang kembali, kamu tidak
lagi menjadi orang yang bisa aku andalkan, karena memang kamu tidak lagi berada
disini, kamu bukan lagi seseorang itu. Sekarang kamu hanyalah bayangan hitam
yang selalu mengendap-endap masuk ke dalam ruang otakku, dan menyadarkanku akan
segala hal menyakitkan dulu. Karena sekarang tidak ada lagi kamu. Tidak ada
lagi kamu yang akan menemaniku hingga larut malam, dan tidak ada lagi kamu yang
mencintaiku seperti dulu. Aku sudah merusak segalanya, aku mematikan dirimu
yang seperti itu dengan egoku yang menghancurkan seluruh keping dihatimu.
Aku pikir, aku akan baik-baik saja saat aku harus kehilangan
seseorang seperti sebelum-sebelumnya. Tapi ternyata aku salah, semua itu tidak
berlaku bagi kamu. Your emptiness makes me hardly to breath. Aku pikir aku
sudah terbiasa dengan kata perpisahan, tapi saat aku harus berhadapan dengan
perginya dirimu, aku merasakan luka yang amat menyakitkan tepat di dasar
hatiku. Sebelumnya, saat aku harus mengakhiri cerita dengan laki-laki sebelum
kamu, aku tidak pernah meneteskan air mata semili-pun, aku tidak pernah mencoba
untuk menghilangkan bayangan tentang mereka, karena memang mereka sama sekali
tidak pernah berada dalam hidupku, mereka tidak benar-benar aku cintai. Ku
pikir kasusmu juga akan sama seperti mereka, aku tidak perlu khawatir akan
kepergianmu, atau akan menangis semalaman karena tidak sanggup kau tinggal
pergi, lalu dengan mudahnya aku melupakan dan mencari yang baru, dan tanpa
harus meraskan sakit karena kehilangan, namun yang terjadi saat ini, malah
bertolak belakang. You are not as same as them, you are different. Aku memang
tidak menangis semalaman karena kepergianmu, namun menangisi ketiadaanmu hingga
detik ini. Dan melupakanmu ternyata tidak semudah seperti yang kupikirkan,
malah aku hingga tidak sanggup untuk bernafas saat kepergianmu saat itu, dan
aku harus menanggung luka yang begitu perih saat harus menyadari bahwa kehadiranmu
memang sudah tidak lagi ada. Dan sejak kepergianmu, hidup dan duniaku berubah.
Aku bukan lagi aku yang dulu sejak kau tinggal pergi.
Aku tidak utuh lagi tanpa kamu. Aku kehilangan diriku
sendiri sejak kepergianmu. Duniaku berubah seiring dengan bukan kamu lagi yang
menjadi pusat duniaku. Hatiku berubah menjadi kepingan yang menyedihkan sejak
kau tinggal pergi. Kau merampas dan membawa pergi semangatku dan kebahagianku.
Dan ketiadanmu benar-benar membunuhku.
Sometimes I wonder.. why do we have to hurt each other? Why
do we hurt someone we love? Why don’t we just sit and having a great talk and
staring on each other with love in our eyes? Why should our ego ruins
everything we had?
You hurt me. And I hurt you more. Seandainya ego kita tak
sebesar itu, mungkin saat ini tidak akan luka di hati kita masing-masing.
Kenapa kita tidak bisa saja saling mencintai tanpa menimbulkan luka?
Ingin rasanya saat itu aku menahanmu untuk pergi, dan
meminta maaf atas perkataan yang aku yakin begitu menyakiti hatimu. Ingin
rasanya saat itu aku menyuruhmu untuk tetap tinggal dan tidak meninggalkanku,
but then I remember.. You didn’t leave me here, I’m the one who let you go.
Jadi, maafkanlah aku karena itu. Bukan kamu yang mengacaukan
alur cerita kita yang seharusnya bahagia, I’m the one who ruin that. Aku yang
menancapkan pisau itu di tengah-tengah paragraf bahagia cerita kita, aku yang
membunuh sosok kita. And here I’m telling you.. a very late sorry.
Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu kembali? Tidak
cukupkah perasaan berasalah yang menggerogoti dasar hatiku ini membawamu
kembali pulang? Pasti tidak, ya? Karena aku tahu, luka yang ku torehkan di
hatimu begitu mematikan, hingga rasanya berjuta kata maaf pun tidak bisa
menyembuhkan.
Orang-orang menganggap bahwa akulah satu-satunya orang yang
tersakiti di cerita ini, tanpa mereka mengetahui cerita yang sebenarnya, karena
memang aku tak sanggup untuk menceritakan kisah pilu itu, aku tak ingin kembali
pada saat-saat harus benar-benar kehilangan dirimu. Karena itu semua terlalu
menyakitkan.Mereka hanya tahu bahwa kau
yang menyakitiku, dan kau lah pelaku utama atas terjadinya kepingan-kepingan
luka di hatiku. Karena saat itu aku marah dan membenci dirimu yang terlalu
egois ingin mendapatkan segalanya, aku marah karena kemudian dengan mudahnya
kau pergi seolah tidak pernah ada cerita di antara kita. Kau melangkahkan kaki
tanpa pernah menengokku yang terluka, kau tidak pernah mengabari atau meminta
maaf atas segala hal yang telah kau perbuat. Kau pergi begitu saja saat itu,
dengan pisau yang kau tancapkan di hatiku, dan tanpa niat untuk mencabutnya
sama sekali.
Tapi, saat itu, aku melupakan bagian tentang kesalahan
diriku sendiri. Aku terlalu menyalahkanmu hingga aku lupa bahwa akulah yang
begitu egois karena ingin memilikimu seutuhnya. Aku melupakan bagian malam itu,
saat aku berteriak marah dan menyuruhmu untuk pergi dan enyah dari hidupku, aku
lupa akan aku yang memintamu untuk mengakhiri cerita kita, dan malah aku yang
menyalahkanmu saat ini, seolah-olah kamulah yang benar-benar meninggalkanku.
Bukan kau yang meninggalkanku, aku yang menyuruhmu pergi, dan wajar saja jika
kau tak pernah mengabariku dan menengok lukaku, karena aku yang tidak menahanmu
saat kepergianmu tiba, aku malah memilih tidur dan berharap lukaku akan sembuh
dengan sendirinya tanpa menyadari bahwa kau disana pun terluka. Dan wajar saja
bila kau tak pernah meminta maaf atas luka yang kau torehkan, karena kau memang
tak bersalah. Karena akulah orang yang menorehkan luka itu sendiri.
I’m sorry for blaming everything on you. If i can turn back
the time, I swear I will never let you go..
But, i guess, it was too late. You already left, and I can’t
do anything just to make you stay.
Semoga kamu menemukan perempuan yang lebih baik lagi, yang
tidak akan pernah mematahkan hatimu karena keegoisannya, dan yang akan
melakukan segala hal hanya untuk membuatmu tetap tinggal.
12 Oktober 2013,
sedang insomnia, dan berharap aku bisa menekan nomor mu di keypadku lagi.
P.S: Maaf untuk keterlambatan tulisan ini, tugas
benar-benar menyita waktu dan hidupku. Namun tetap saja, sesibuk apapun aku
saat ini, kamu akan selalu menjadi seseorang yang selalu aku fikirkan sesaat
sebelum tidur, seseorang yang selamanya masih akan kuinginkan. Well, I’m not going to say too much, I’m just so sorry. I’m
sorry for everything I have done, I’m sorry for blaming you, and I’m sorry for
hurting you. I'm sorry for thinking that I can live without you.
Apa yang harus kutulis untuk mengawali segalanya? Sapaan hai
atau pertanyaan apa kabar? Klise sekali rasanya, menyapa dan menanyakan
sesorang yang tak apa pernah menjawabnya, apa gunanya?
Lantas apa yang harus kutulis?
Aku merindukanmu?
Nah, kalau itu rasanya terlalu mencurahkan isi hati sekali,
ya?No, no, no, just forget it. Aku ralat,
anggap saja aku tak pernah mengatakan itu sebelumnya. Karena, lebih baik aku
menanyakan apa kabar yang tidak akan dijawab daripada menyatakan kata rindu
yang akan diabaikan.
Jadi, baiklah, aku tidak akan mengatakan apa-apa untuk
mengawalinya.
Setiap orang yang membaca surat-surat untukmu (yang tak
pernah terbaca) selalu bertanya kepadaku, kenapa aku tetap menulis untuk
seseorang yang tak akan pernah membacanya?
Aku hanya tersenyum simpul dan menjawab, karena ini caraku
untuk memerdekakan rindu, dan mendamaikan hati. Karena lewat tulisanlah aku
mengungkapkan isi hatiku, mencurahkan rindu yang tak akan terbalas untukmu. Karena
setiap bayangan menyakitkan tentang dirimu, hanya kata-lah yang dapat
menenangkanku. Karena lewat kata-lah, aku memerdekakan rindu, membuatnya terbebas, tanpa dibayangi oleh rasa sesak.
Aku akan terus menulis, menulis, dan menulis setiap kata
saat dada ini sesak dipenuhi luka yang engkau torehkan. Kata-lah obat
penyembuhku. Maka dari itu, aku selalu menulis kata, agar hati ini tak terlalu
perih saat mengenangmu.
Jadi, aku mohon, jangan pernah menyuruhku untuk berhenti
menulis segala tentang kamu disini, ya? Karena berhenti menulis sama sulitnya
seperti berhenti mencintaimu.
Aku ragu bisa melakukan keduanya. Karena keduanya, tulisan
dan dirimu, akan selalu berjalan bersisian. Kau bagaikan inspirasi dari segala
tulisanku, mungkin jika kau tidak pernah datang dalam hidupku, dan
menghancurkan hatiku, tulisan-tulisan sedih ini tidak akan pernah ada.
Lalu, apa yang lebih baik? Kedatanganmu yang menorehkan luka
dihatiku juga memberiku inpirasi untuk menulis, atau ketiadaanmu yang akan
membuat hatiku sehat-sehat saja namun membuat tulisan-tulisanku pun tiada.
Aku tidak tahu mana yang lebih baik. Tapi marilah bersyukur,
karena berkat kau dan pisau yang kau tancapkan dihatiku, aku mendapat inpirasi
untuk menulis. Jadi, terimakasih untuk hal itu.
Dan seketika, setelah menulisakan ucapan terimakasih itu,
aku datap mendengar suara tawa mengejek dari boneka-boneka di atas kasurku.
Mereka bilang, aku bodoh karena mengucapkan terimakasih pada
seseorang yang sudah mengacak-ngacak hatiku.
And, yes, they’re right.
Dan aku juga ingat kau sering bilang begitu padaku, akibat
keteledoran yang kulakukan, namun setelahnya kau akan memelukku, dan berkata “jangan
teledor lagi ya.” setelah kau membereskan segala kekacauan yang telah
kuperbuat, tanpa caci maki dan kalimat-kalimat kasar. Kau hanya akan berkata 4
kata itu saja, lalu mencoba mengembalikan moodku karena aku terlalu merasa
bersalah, dan lagi-lagi, kalimat yang keluar dari bibirmu itu menenangkan, kau
bilang, “aku suka kok jadi orang yang selalu ngeberesin masalah yang kamu
bikin, itu bikin kamu gak akan bisa lepas sama aku. Iya kan?” lalu kau
tersenyum, dan kita akan tertawa bersama, melupakan hal buruk yang terjadi
beberapa jam lalu.
Dan kau benar, aku akan selalu terikat dengan kehadiranmu,
selamanya tidak bisa lepas dari bayangmu. Hingga saat ini.
Kau benar sekali waktu
itu, tapi saat itu, aku tak pernah membayangkan akan sesakit ini rasanya.
Dan beginilah takdir untukku akhirnya, kau pergi, dan aku
masih tak bisa lepas dari bayanganmu. Kau
sehat-sehat saja, dan aku terus mencoba mengobati luka dihatiku dengan kata
yang kutulis -yang jelas-jelas tidak akan ada di resep dokter- kau bahagia
akhirnya, dan aku meringis menahan perih tepat didasar hatiku, lalu akan
meneteskan air mata saat aku tak kuasa lagi menahannya.
Kenapa Tuhan harus mempertemukanku dengan seseorang yang
akhirnya hanya akan membuatku menangis?
Kenapa Tuhan harus mempertemukan kita saat itu, jika pada
akhirnya kau akan pergi, dan meninggalkanku dengan membawa hati, semangat, dan
jiwaku, lalu membiarkan aku berperang dengan rasa sakit sendirian?
Aku ingat saat itu, saat aku terisak kencang, kau datang
tepat saat aku tak kuasa berdiri, lalu dengan senyuman manis yang kau punya,
kau menyeka air mataku yang entah keberapa kali sudah terjatuh, lalu memelukku,
dan berbisik bahwa segalanya akan baik-baik saja.
Namun itu dulu, sebelum kau pergi, dan masih menjadi
milikku. Lalu kenyataannya hari ini? Bertolak belakang, kau sudah pergi dan
bukan milikku lagi.
Ouch. Hatiku tiba-tiba menjerit kesakitan saat mendengar
bagian terakhir yang tadi kukatakan, lalu sakitnya beruntun pada kedua mataku
yang tiba-tiba menteskan air mata.
Seandainya masih ada sosokmu disini, mungkin keadaanya tidak
akan semenyakitkan ini, tidak akan ada hatiku yang terluka, dan tidak akan ada
air mata yang jatuh setiap malam akibat terlalu merindukanmu yang telah pergi.
Mengenangmu seperti membuka lembar demi lembar cerita yang menyakitkan.
Ujung-ujungnya hanya akan membuatku menangis dan merobek luka di hatiku semakin
dalam.
Namun, otak ini tak akan pernah berhenti memutar segala hal
tentangmu, begitupun dengan hati ini, yang tak akan pernah berhenti
mencintaimu.
Terkadang, aku berharap aku mengidap amnesia, agar aku dapat
mengenyahkan segala kenangan yang terus menerus menggerogoti hatiku.
Aku ingin sekali bersikap egois, dengan menahanmu disini. Atau
menjadi orang jahat, dengan berharap bahwa kau akan mengalami pedih yang aku
rasakan.
Tapi aku tidak bisa mengucapkan kata amin setelahnya, karena
walau kau telah menyakiti aku sebegitu parahnya, dan meninggalkanku tanpa
ucapan selamat tinggal, lalu hanya memberiku luka pada akhirnya, aku akan tetap
berterimakasih karena kau pernah singgah disini, walalu hanya untuk menorehkan
luka dan pergi pada akhirnya..
Aku akan selalu mengirimmu doa agar bahagia selalu berada disisimu.
5 September 2013, dan
lagi-lagi merindukanmu.
P.S: Handphone-ku hilang tepat pada sore ini, dengan segala
draft novel perdanaku yang belum aku copy ke media lain. Sedih rasanya, kedua
hal yang menjadi penyemangatku hilang, kau, dan tulisan itu. Apa ini maksud
Tuhan agar kau dan aku tak akan pernah bisa berhubungan lagi? Atau mungkin ini
cara Tuhan agar membuatku lupa pada dirimu? Karena kau tahu, di dalam handphone
itu, segalanya tertuju padamu, handphone itu merekam manis dan pahitnya cerita
kita, handphone itu menjadi saksi kebahagianku, juga saksi patah hatiku setelah
kau tinggal pergi. Foto-foto bodoh kita, video tolol saat kita sok meng-cover
lagu, dan pesan singkat sejak awal hingga semuanya hancur masih tersimpan rapi
di memori handphone itu. Dan juga banyak sekali tulisan di Notepad yang menjadi
pelampiasanku saat luka dihatiku terobek kembali karena ingatan tentang dirimu
yang tiba-tiba muncul. Dan sekarang, aku harus kehilangan itu semua, sama
seperti aku harus kehilanganmu. Apa kehilangan memang takdir setiap manusia
didunia ini? Namun, walaupun handphone dan segala saksi tentang cerita kita
sudah lenyap, bayanganmu akan selalu menempati ruang di otakku, juga namamu
yang akan selalu terukir di hatiku. Dan, kamu, berhati-hatilah, supaya
kehilangan tidak tahu keberadaanmu. Berbahagialah selalu, kepala batu.